Serangan di Museum Bardo dan Industri Pariwisata Tunisia


ROBERT ADHI KSP

Serangan teroris bersenjata di Museum Nasional Bardo di Tunisia, Rabu (18/3) pekan lalu, menewaskan 23 orang dan melukai puluhan lainnya. Apakah industri pariwisata Tunisia bakal padam pasca serangan di Museum Bardo? Rakyat Tunisia bersatu padu berupaya membangkitkan kembali citra pariwisata Tunisia melalui media sosial. Sementara Pemerintah Tunisia dengan cepat menangkap mereka yang diduga terlibat dalam serangan mematikan itu.

BardoTunisia 23032015

Dari jumlah yang tewas, 20 di antaranya adalah wisatawan asing yang berkunjung ke Museum Bardo. Dua puluh korban tewas adalah berkebangsaan Italia (4 orang), Jepang (3), Perancis (3), Polandia (3), Spanyol (2), Kolombia (2), Rusia (1), Belgia (1), Inggris (1). Tiga orang lainnya yang tewas adalah warga Tunisia, termasuk dua lelaki bersenjata Kalashnikov yang menyerang museum. Warga Tunisia lainnya yang tewas adalah seorang polisi.

Kementerian Kesehatan Tunisia dalam pernyataannya hari Sabtu (21/3) menyebutkan, sebanyak 43 orang luka-luka, 33 di antaranya sudah meninggalkan rumah sakit di Tunisia, dan 10 lainnya masih dirawat di Rumah Sakit Charles Nicolle (Polandia 2 orang, Jepang 2, Belgia 1, dan Perancis 1), RS Rabta (Jepang 1 orang), RS Habib Thameur (Afrika Selatan 1 orang), serta RS militer (Rusia 1 orang dan Italia 1 orang). (”Ministry of Health reveals nationality of 20 tourists victims of Bardo Museum attack”, Agence Tunis Afrique Presse, 21 Maret 2015).

Beberapa warga Italia yang menjadi korban adalah penumpang kapal pesiar Costa Fascinosa, yang selama tujuh hari mengarungi Laut Mediterania. Pelabuhan Tunis salah satu tempat berlabuh kapal pesiar itu. (”Tunisia: 23 killed in terror attacks on tourists”, Al Arabiya, 18 Maret 2015).

Otoritas Tunisia hari Sabtu (21/3) mengumumkan telah menangkap lebih dari 10 militan atas dugaan keterlibatan dalam serangan bersenjata di Museum Nasional Bardo. Dua orang bersenjata yang tewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan Tunisia diketahui sebagai Yassine Laabidi dan Hatem Khachnaoui. Keduanya meninggalkan Tunisia pada Desember 2014 dan pernah mengikuti latihan bersenjata di Libya.

Perdana Menteri Tunisia Habib Essid menegaskan, aksi terorisme tidak mendapat tempat di negeri itu. ”Aksi teroris tidak akan menghalangi Tunisia bergerak maju membangun berbagai proyek untuk mengurangi marjinalisasi dan menciptakan lapangan kerja. Tunisia baru secara tegas berkomitmen membawa proses konstruksi demokrasi ini mencapai tujuan akhir, apa pun kesulitan dan hambatannya,” kata Essid, yang optimistis dengan masa depan Tunisia. Dia mengajak semua rakyat Tunisia bersatu, mendukung upaya aparat keamanan memerangi terorisme di negeri itu (”Essid: Terrorism will by no means deter Tunisia to move forward in achieving development projects”, Tunisian News Agency, 21 Maret 2015).

Museum Bardo di Tunisia adalah salah satu lokasi pariwisata paling populer di Tunisia. Museum itu menyimpan koleksi terkenal berupa benda-benda antik dan warisan yang lain dari Kekaisaran Romawi. Negara di Afrika utara itu mengandalkan sektor pariwisata. Serangan ke Museum Bardo melumpuhkan aktivitas pariwisata di negeri itu. Padahal, sebanyak 15 persen pendapatan Tunisia berasal dari sektor pariwisata.

Serangan di Museum Bardo itu merupakan serangan terburuk yang menimpa orang asing di Tunisia sejak bom bunuh diri di Sinagog di Pulau Djerba tahun 2002 yang menewaskan 14 warga Jerman, 2 warga Perancis, dan 5 warga Tunisia.

Media sosial

Tunisia adalah negara pertama yang menggaungkan Arab Spring dan menularkannya kepada negara-negara lainnya di Afrika Utara dan Timur Tengah. Rakyat Tunisia sudah terbiasa menggunakan media sosial untuk melakukan perubahan.

Organisasi Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa atau The United Nations World Tourism Organization (UNWTO) mengecam keras serangan terhadap Museum Bardo di Tunisia, demikian juga pengguna media sosial di dunia.

Tagar #JeSuisBardo dan #JeSuisTunisien sempat masuk tren topik dunia. Dalam empat hari terakhir, topsy.com mencatat 11.032 cuitan di Twitter yang menggunakan tagar #JeSuisBardo, dan 21.455 cuitan yang menggunakan tagar #JeSuis Tunisien, sebagai tanda solidaritas terhadap Tunisia.

Selain itu, ribuan rakyat Tunisia berkumpul di pusat kota Tunis, menyampaikan protes dan rasa prihatin atas serangan tersebut. Mereka menyalakan lilin di depan gerbang museum Bardo (”Tunisians rally in #JeSuisBardo protests against museum shootings”, The Telegraph, Kamis 19 Maret 2015).

Tunisia sebenarnya baru melakukan re-branding industri pariwisata negeri itu dan menawarkan kepada turis-turis Eropa matahari, laut, dan pasir (sun, sea, and sand). Pengguna media sosial di Tunisia ramai-ramai mempromosikan pariwisata negeri itu melalui Facebook dan Twitter. Wisatawan yang berkunjung ke Tunisia berbagai foto-foto di Facebook yang dibuat khusus untuk turis asing. ”Saya ingin menunjukkan realitas di Tunisia. Saya ingin membantu negara saya tanpa harus menunggu pemerintah yang melakukannya,” kata Zied Chargui, pemilik Facebook Page itu (”From beaches to dunes, the shifting sands of Tunisia’s tourism industry”, Al Arabiya, 9 Maret 2015).

Jumlah wisatawan yang datang ke Tunisia pada Januari 2015 merosot 10 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. ”Aktivitas pariwisata di Sousse turun beberapa tahun terakhir ini karena kondisi dalam negeri dan kawasan,” kata Saoua Guedri, pejabat pariwisata di Sousse.

Revolusi di Tunisia 2011 menciptakan persepsi bahwa negeri itu tidak aman. Pada 2013, ledakan bunuh diri di resor pantai di Sousse, salah satu destinasi wisata paling populer di Tunisia, mengguncang sektor pariwisata negeri itu. Serangan itu dilakukan kelompok ekstremis Salafist Ansar al-Shariah.

Pada 2002, serangan teroris menyurutkan minat wisatawan asal Jerman dan mengubah kualitas wisatawan yang datang ke negeri itu. ”Orang Jerman yang berbelanja di Tunisia kini jarang lagi datang. Mereka digantikan wisatawan Eropa Timur dan Rusia yang jarang berbelanja,” kata Ben Jenana, yang pernah mengelola hotel.

Apakah industri pariwisata Tunisia bakal padam pasca serangan bersenjata di Museum Bardo? Nazanine Moshiri, presenter dan koresponden Al Jazeera berpendapat, industri pariwisata Tunisia tidak akan padam. ”Tunisia masih aman untuk dikunjungi wisatawan. Seorang teman mengirim surat elektronik tentang rencana pasangan asing yang tetap berencana berlibur ke Tunisia,” tulis Moshiri (”Is tourism to Tunisia dead?”, Aljazeera, 20 Mei 2015).

Lebih dari 1 juta orang bekerja di industri pariwisata Tunisia, baik langsung maupun tidak langsung. Pada 2010, sekitar 7 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke negeri itu. Tahun 2014, jumlahnya menurun menjadi sekitar 6 juta orang. Pemerintah Tunisia berusaha menonjolkan keunikan budaya di negeri itu, seperti lanskap gurun di Tunisia yang pernah menjadi lokasi shooting film-film Star Wars.

National Geographic Traveller memasukkan nama ibu kota Tunisia, Tunis, sebagai 20 destinasi wisata top untuk tahun 2015. Energi budaya yang muncul di kota ini, berbagai festival dan Museum Bardo, menjadi daya tarik utama.

Menurut Garrett Nagle dalam bukunya, Advanced Geography, industri pariwisata Tunisia mendapat keuntungan dari lokasi negeri itu di tepi Laut Mediterania dan tradisi berlibur paket-paket berbiaya murah dari Eropa Barat.

Setelah serangan bersenjata di Museum Bardo, rakyat Tunisia dan masyarakat internasional menolak kekerasan yang terjadi. Mereka ramai-ramai mendukung Tunisia di media sosial Twitter dan Instagram dengan tagar #JeSuisBardo atau #JeSuisTunisien. Sebagian lagi membuat tagar #IWillComeToTunisia.

Mereka ingat revolusi Arab Spring yang terjadi pada 2011 dimulai di negara ini berkat dukungan media sosial. Karena itu, mereka yakin kekuatan media sosial akan membantu industri pariwisata negeri itu bangkit kembali.

Yara al Wazir, aktivis kemanusiaan, founder The Green Initiative, menyarankan agar warga Tunisia membangkitkan kembali sektor pariwisata Tunisia dengan memanfaatkan Twitter. ”Media sosial adalah pengingat apa yang baik di dunia,” tulis Yara al-Wazir. (”#JeSuisBardo–How Twitter promises to revive Tunisia”, Al Arabiya News, Sabtu 21 Maret 2015).

”Kekuatan dan kemampuan untuk pulih ditunjukkan oleh rakyat Tunisia ketika mereka menekan pemerintah melakukan perubahan selama Revolusi Jasmine. Itu bisa terjadi lagi apabila pengguna Twitter di Tunisia menggunakan kata-kata mereka untuk membangkitkan kembali sektor industri pariwisata,” tulis Yara al-Wazir.

Rakyat dan Pemerintah Tunisia bersatu padu berupaya mengusir aksi terorisme dari negeri itu dengan cara masing-masing. Mereka paham, apabila Tunisia dipersepsikan tidak aman oleh orang asing, itu akan berdampak pada perekonomian negara tersebut.

@RobertAdhiKsp

SUMBER: DUDUK PERKARA, KOMPAS SIANG DIGITAL, KOMPASPRINT.COM, SENIN 23 MARET 2015

Iklan