Arsip Tag: Barack Obama

Makna Kunjungan Historis Paus Fransiskus ke Kuba dan AS


ROBERT ADHI KSP

Paus Fransiskus (78) melakukan kunjungan historis ke Kuba, Minggu (20/9), bertemu dengan Presiden Kuba Raul Castro (84) dan mantan penguasa Kuba, Fidel Castro (89). Paus Fransiskus merupakan tokoh penting di balik mencairnya hubungan Kuba dan Amerika Serikat yang membeku selama lebih dari 50 tahun. Berkat diplomasi yang dilakukan pemimpin 1,3 miliar umat Katolik sedunia itulah, kini bendera Kuba berkibar di Washington dan sebaliknya bendera AS berkibar di Havana.

Paus Fransiskus juga akan berkunjung ke Amerika Serikat pada Selasa (22/9) sampai Minggu (27/9), bertemu dengan Presiden Barack Obama di Gedung Putih, Washington DC. Paus Fransiskus akan disambut Obama dengan suka cita karena besarnya peranan Vatikan menormalisasi hubungan Washington-Havana. Paus Fransiskus juga akan berbicara di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, serta menggelar berbagai acara di Philadelphia.

Kunjungan Historis Paus

Ketika mengunjungi Fidel Castro di rumahnya di Havana, pada Minggu seusai menggelar misa, Paus membawa dua buku yang ditulis teolog Italia, dan satu buku lainnya yang ditulis mantan guru Fidel. Sedangkan Fidel menghadiahi Paus sebuah  buku berjudul “Fidel and Religion” yang ditulis imam asal Brasil dan aktivis Frei Betto. Dari rumah Fidel, Paus mengadakan pertemuan khusus dengan Presiden Raul Castro di Palace of the Revolution, Havana. (“Pope meets with Fidel Castro, urges Cubans to ‘serve people,’ not ideas”,Washington Post, 20 September 2015).

Paus Fransiskus kemudian mengunjungi Katedral Havana, bertemu dengan para biarawati, imam, uskup, dan seminaris. Paus Fransiskus mengingatkan kembali agar mereka merangkul kaum miskin dan papa. “Di sanalah tempat kalian akan bertemu dengan Yesus,” kata pemimpin gereja Katolik sedunia itu.

Di luar Katedral Havana, Paus Fransiskus menyampaikan khotbahnya di depan kerumunan kaum muda Kuba. Paus meminta kaum muda untuk memiliki impian dan menolak godaan hidup, juga menghormati mereka yang memiliki pandangan hidup yang berbeda. “Sungguh seorang Paus yang keren,” teriak beberapa orang muda di tengah kerumunan setelah mendengar khotbah Paus.

Lanjutkan membaca Makna Kunjungan Historis Paus Fransiskus ke Kuba dan AS

Iklan

Diplomasi Selfie PM India Narendra Modi dan Para Pemimpin Negara


ROBERT ADHI KSP

Sebuah foto bermakna seribu kata. Perdana Menteri India Narendra Modi tampaknya meyakini betul makna kalimat bijak itu. Foto selfie Modi bersama Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang pada pertengahan Mei 2015 menjadi selfie paling berpengaruh dalam sejarah. Diplomasi selfie yang dilakukan Modi dalam setiap kunjungannya ke luar negeri memberi makna tersendiri bagi kepemimpinannya.

Modi berhasil mengambil hati rakyat Tiongkok ketika dia sengaja membuat akun mikroblog Weibo (mirip Twitter, tetapi khusus Tiongkok). Begitu selfieModi bersama Li diunggah ke akun Weibo, jumlah pengikut (follower) Modi di Weibo melesat dalam waktu singkat menjadi 16,5 juta. Foto selfie kedua pemimpin negara itu dilihat oleh 31,85 juta orang.

Narendra Modi

Banyak pengguna Weibo mengomentari foto selfie dua perdana menteri itu. ”Cute premier!” tulis mereka. Banyak pula yang meminta Modi tetap mengunggah di mikroblog Weibo pasca kunjungannya ke Tiongkok. Sebagian lagi mempertanyakan mengapa para pemimpin Tiongkok tidak hadir di media sosial. ”Apakah tidak lebih baik PM Li memiliki akun Weibo sendiri? Agar kami dapat berkomunikasi dengan dia langsung,” tulis seorang pengguna Weibo, seperti dikutip The Times of India.

Di Tiongkok, para pemimpin negeri itu memang masih jarang aktif bermain di media sosial. Membahas kehidupan pribadi para politisi di Tiongkok masih dianggap tabu. Data pribadi mereka masih menjadi rahasia negara. Selama kunjungan tiga hari di Tiongkok, Modi mengunjungi kota Xian, Beijing, dan Shanghai, melakukan pembicaraan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, PM Li Keqiang, dan pejabat lainnya. Pemimpin India itu memperkuat hubungan ekonomi dengan Tiongkok, serta membahas masalah perbatasan kedua negara. Dari Tiongkok, Modi bertemu dengan Presiden Mongolia Tsakhiagiin Elbegdorj, Minggu (17/5), dan keduanya juga ber-selfie. Narendra Modi memang dikenal aktif dalam media sosial. Jumlah pengikutnya di media sosial Twitter tercatat 12,4 juta. Adapun jumlah orang yang like Facebook-nya tercatat 28,4 juta. Jumlah pengikutnya di Instagram tercatat 477.000 (sampai 20 Mei 2015).

Lanjutkan membaca Diplomasi Selfie PM India Narendra Modi dan Para Pemimpin Negara

Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina


ROBERT ADHI KSP

Sejak terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik dan pemimpin 1,2 miliar penganut Katolik di seluruh dunia, Maret 2013 silam, Paus Fransiskus (78) aktif memainkan diplomasi internasional. Tahun lalu, Paus membantu mencairkan hubungan Kuba dan Amerika Serikat yang sudah bermusuhan selama lebih dari setengah abad. Rabu (13/5) lalu, Vatikan menyatakan mengakui negara Palestina secara de facto.

Simbol Vatikan mengakui negara Palestina dilambangkan pula dengan kanonisasi dua biarawati Palestina, yaitu Suster Mariam Bawardy dan Marie-Alphonsine Danil Ghattas. Keduanya hidup pada abad ke-19 dan menjadi orang suci pertama dari Palestina. Mereka adalah dua dari empat biarawati yang dikanonisasi Paus Fransiskus dalam upacara seremonial di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang dihadiri Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan delegasi dari Israel serta 2.000 peziarah dari sejumlah negara. Dalam upacara itu, Paus melukiskan Mahmoud Abbas sebagai ”malaikat perdamaian”.

Diplomasi Paus Fransiskus

April 2015, Paus Fransiskus mengingatkan semua pihak perihal pembantaian Armenia yang menewaskan sekitar 1,5 juta warga Armenia pada masa Dinasti Ottoman, awal abad ke-20. Paus Fransiskus menarik perhatian dunia karena menggunakan kata ”genosida” untuk pembantaian massal tersebut. Pernyataan Paus Fransiskus sempat menimbulkan reaksi keras dari Pemerintah Turki yang mengatakan peristiwa itu terjadi pada masa Perang Dunia I.

”Paus Fransiskus seorang yang mampu berdoa di Blue Mosque di Istanbul dan kemudian berbicara tentang genosida Armenia. Dia bukan seseorang yang terikat oleh kebenaran politik. Itu diplomasi dari pemimpin yang sesungguhnya,” kata mantan Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini.

Setelah pendahulunya, Paus Benediktus XVI, lebih banyak berkutat pada persoalan teologi ilmiah, Paus Fransiskus mengembalikan wajah Gereja Katolik yang mengutamakan upaya perdamaian di dunia. Hal itu diwujudkan melalui langkah-langkah diplomasi seperti dilakukan Paus Yohanes Paulus II yang membantu mengakhiri Perang Dingin.

Lanjutkan membaca Diplomasi Paus Fransiskus, dari Cairkan Kebekuan AS-Kuba sampai Akui Negara Palestina

Era Baru AS-Kuba Pasca Jabat Tangan Bersejarah


ROBERT ADHI KSP

Jabat tangan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Kuba Raul Castro dalam KTT Amerika, di Panama City, Panama, Sabtu (11/4), merupakan awal baru hubungan kedua negara yang selama lebih dari setengah abad diwarnai gejolak dan konflik. Jabat tangan itu diharapkan berdampak luas. Tidak sekadar urusan dengan satu negara dan satu pemimpin, tetapi bergaung keras ke penjuru Amerika Latin.

Tak seorang pun berpikir bahwa masa-masa saling tidak percaya dan saling curiga kedua negara itu selama lebih dari setengah abad sudah berakhir lewat jabat tangan Barack Obama dan Raul Castro.

Kuba

”Kami siap berdiskusi tentang apa saja, tetapi kami harus sabar, sangat sabar,” kata Presiden Kuba Raul Castro. Obama mengakui kedua pihak sering berselisih, tetapi berharap mereka melakukannya dengan saling menghormati satu sama lain.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez, seperti dikutip Havana Times, menyebutkan, normalisasi hubungan kedua negara akan merupakan ”proses yang panjang, sulit, dan kompleks”.

Mengapa? KTT Amerika belum menyentuh hal-hal yang rinci. Rencana pembukaan kembali kedutaan besar belum ditentukan waktunya.

Setelah menggelar tiga pertemuan sejak Januari 2015, dialog kali keempat belum dapat dikonfirmasi lagi. Dalam KTT Amerika itu, Obama juga belum menyatakan mengeluarkan Kuba dari daftar hitam negara pendukung teroris.

Kuba masuk daftar itu sejak tahun 1982. Saat ini, daftar negara pendukung teroris antara lain adalah Iran, Sudan, Suriah, dan Kuba. Gedung Putih menyatakan akan mengevaluasi daftar itu, tetapi belum memutuskannya sekarang.

Kuba juga masih menolak kembalinya Organization of American States (OAS) karena pemerintahan Raul Castro beranggapan OAS adalah instrumen dominasi Washington di negerinya.

Kuba yang selama ini menganut sistem ekonomi sosialis tampaknya membutuhkan solusi lebih cepat agar perekonomian negara itu cepat bergerak. Akibat sanksi embargo yang dilakukan Amerika Serikat terhadap negara kepulauan itu sejak tahun 1962, ekonomi Kuba bergerak lamban. Pertumbuhan ekonomi hanya 2 persen-3 persen.

Kuba sendiri sudah berangsur-angsur berubah, terutama pasca Kongres Partai Komunis Kuba yang digelar untuk kali pertama pada April 2011 dalam 13 tahun terakhir. Para pemimpin negeri itu menyetujui rencana melakukan reformasi ekonomi secara terbatas.

Di antaranya mengizinkan rakyat Kuba membeli peralatan elektronik dan telepon seluler, menginap di hotel, serta membeli dan menjual mobil bekas. Pemerintah Kuba juga membuka layanan ritel untuk ”wirausaha” yang memunculkan apa yang disebut sebagai pengusaha (cuentapropistas).

Lanjutkan membaca Era Baru AS-Kuba Pasca Jabat Tangan Bersejarah

Hadiah Natal Paus untuk AS dan Kuba


Paus dan AS-Kuba

ROBERT ADHI KSP

Pulihnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kuba pertengahan Desember menjadi hadiah Natal paling berharga dari Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia. Paus Fransiskus dan diplomat-diplomat Vatikan memainkan peranan penting dalam pemulihan hubungan diplomatik antara AS dan Kuba.

Pemimpin negara AS dan Kuba mengakui pentingnya ajakan Paus agar kedua negara memulihkan hubungan diplomatik yang telah lama membeku. Puluhan tahun lamanya AS menjadi musuh Kuba dan juga sebaliknya, Kuba menjadi musuh AS. ”Dukungan Paus Fransiskus dan Vatikan sangat penting bagi kami,” kata seorang pejabat senior AS.

Mencairnya hubungan diplomatik AS dan Kuba merupakan pencapaian diplomatik terbesar Paus Fransiskus sejak terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia, Maret 2013 silam.

Paus Fransiskus mengajak Presiden AS Barack Obama dan Presiden Kuba Raul Castro melakukan kesepakatan damai melalui sejumlah langkah cerdas, termasuk mengirim surat kepada kedua pemimpin negara itu pada musim panas lalu.

Surat Paus Fransiskus mengimbau kedua negara untuk ”menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tentang kemanusiaan yang menjadi kepentingan bersama, termasuk kondisi tahanan tertentu, dalam upaya memulai babak baru dalam hubungan kedua negara” (Pope Francis and the Vatican played key roles in US-Cuna thaw, leaders reveal, The Guardian, 17 Desember 2014).

Paus mendiskusikan kompromi paling memungkinkan dengan Obama ketika Presiden AS itu berkunjung ke Vatikan, Maret 2014 lalu. Paus juga menjadi tuan rumah pertemuan negosiasi kunci antara AS dan Kuba, termasuk yang digelar bulan Oktober lalu.

Lanjutkan membaca Hadiah Natal Paus untuk AS dan Kuba

Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial


Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

ROBERT ADHI KSP

Di era digital, cukup banyak kepala negara dan kepala pemerintahan di sejumlah negara memanfaatkan media sosial sebagai salah satu alat komunikasi. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, memanfaatkan Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pendapat tentang isu-isu terkini.

Sebelum media sosial populer, para pemimpin negara lebih sering memanfaatkan televisi dan radio. Namun, kini media sosial menyediakan semuanya, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga dalam bentuk foto dan video. Ini lompatan jauh dunia komunikasi sesuai zamannya.

Presiden Yudhoyono sedang berada di luar negeri ketika Undang-Undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) disahkan DPR melalui voting. Menanggapi banyaknya kritik rakyat pengguna media sosial yang membuat hashtag #ShameOnYouSBY dan #ShamedByYou di Twitter, Yudhoyono kemudian menjelaskan melalui Youtube tentang sikapnya terhadap UU Pilkada.

Dalam video selama 15 menit 24 detik yang diunggah ketika masih dalam perjalanan ke luar negeri, Presiden Yudhoyono menegaskan sikapnya untuk memastikan hak pilih rakyat tidak dihilangkan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Sikap serupa ia sampaikan melalui Facebook dan Twitter.

Pelanggan video Yudhoyono di Youtube sampai awal Oktober 2014 tercatat 8.267. Komentar Yudhoyono di video ini dikutip oleh media-media mainstream, termasuk media online. Yudhoyono juga memiliki akun resmi Twitter dengan jumlah pengikut (follower) sebanyak 5,62 juta. Fan page Presiden Yudhoyono yang dikelola staf khusus presiden di-”like” 3.657.118. Jika SBY sendiri yang mem-posting pendapat-pendapatnya, di belakangnya tertera *SBY*.

Yudhoyono sebenarnya belum lama membuat akun-akun media sosial tersebut. Namun, popularitas media sosial di Indonesia yang sangat tinggi tampaknya membuat Yudhoyono harus berkomunikasi dengan rakyatnya yang sebagian besar pengguna media sosial.

Yang menarik, ketika ribuan orang mem-bully Yudhoyono di Twitter terkait UU Pilkada, Presiden tidak menunjukkan reaksi negatif. Bahkan, terkesan dia menerima hal itu sebagai konsekuensi atas aktifnya dia sebagai pengguna media sosial. Selain mengemukakan pendapat merupakan bagian dari proses demokrasi, SBY tampaknya juga memahami sifat media sosial yang spontan dan langsung.

Obama dan lain-lain
Tidak hanya Presiden Yudhoyono yang memiliki akun-akun media sosial. Presiden Amerika Serikat Barack Obama sudah memilikinya sejak awal, bahkan ketika media-media sosial yang diciptakan orang-orang Amerika Serikat itu baru mulai dirilis kali pertama. Pelanggan Youtube Barack Obama sampai awal Oktober ini tercatat 536.361, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Youtube Yudhoyono. Pengikut akun Twitter Barack Obama tercatat 47,7 juta dan jumlah yang me-like fan page Obama tercatat 42.940.006.

Obama memanfaatkan betul media sosial untuk alat komunikasi dengan rakyat Amerika Serikat. Jumlah yang me-like satu posting Obama bisa mencapai ratusan ribu orang. Topiknya macam-macam, dari isu lapangan kerja, kenaikan upah, kesehatan, pendidikan, sampai masalah perubahan iklim. Obama juga memberi ruang bagi rakyatnya untuk berkomentar. Pedas atau manis, itulah esensi demokrasi.

Lanjutkan membaca Komunikasi Pemimpin Negara di Media Sosial

Writing is the Painting of the Voice

%d blogger menyukai ini: