Arsip Tag: Sinarmas Land

Digital Hub BSD Dirancang Menjadi ”Silicon Valley” Indonesia


R. ADHI KUSUMAPUTRA

Digital Hub BSD, kawasan cerdas terintegrasi pertama di Indonesia, dirancang menjadi ”Silicon Valley” Indonesia, menjadi ”rumah” yang nyaman bagi berbagai perusahaan teknologi dan digital, mulai dari usaha rintisan (startup), perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan digital, sampai lembaga pendidikan di bidang teknologi informasi.

Digital Hub BSD mulai dibangun pada Kamis (18/5), ditandai dengan acara groundbreaking oleh CEO Sinarmas Land Michael Widjaja; Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf; Sekjen Kementerian Ristek dan Dikti Ainun Na’im; Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawiriawan; Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Lis Sutjiati; Bupati Tangerang Ahmad Zaki Iskandar; Managing Director President Office Sinarmas Land Dhony Rahajoe; Manajer Senior Sinarmas Land Saleh Husin; serta Project Officer Digital Hub BSD Irawan Harahap. 

IMG_0922 (1).jpg

Michael Widjaja mengungkapkan, kehidupan orang saat ini berubah secara dramatis akibat pengaruh perkembangan teknologi yang begitu cepat. ”Ini berdampak pada berubahnya standar hidup, cara hidup, dan kebiasaan hidup kita sehari-hari,” kata Michael. ”Termasuk kebiasaan saya menonton. Kini saya lakukan dalam genggaman tangan lewat ponsel cerdas,” lanjutnya.

Michael juga memberi contoh lain, yaitu kebiasaan generasi milenial membeli tiket secara daring dan membeli barang melalui toko daring. Perubahan ini telah menghidupkan sektor e-commerce (e-dagang).

Perubahan ini, ujar Michael, menuntut dirinya sebagai orang yang membangun kawasan perkotaan untuk juga berubah. Tidak lagi sekadar membangun rumah dan ruko, tetapi juga membangun kawasan digital cerdas terintegrasi yang menjadi ”rumah” bagi perusahaan-perusahaan teknologi dan digital.

DigiHub1 KSP.jpg

Digital Hub yang dibangun di lahan seluas 25,86 hektar, di sisi selatan Green Office Park BSD, merupakan wujud dari komitmennya mengembangkan ”Silicon Valley” Indonesia serta memajukan dunia teknologi dan digital di Tanah Air.

Beberapa mitra di Digital Hub BSD adalah Apple Inc yang membangun pusat riset dan pengembangan, Purwadhika (sekolah startup dan coding), GeeksFarm (tech talent), Universitas Amikom Yogyakarta (membangun pusat animasi), Huawei, Dimension Data, Unilever, Smartfren, My Republic, serta beberapa startup, yaitu Sale Stock, Orami, Qlue, dan EV Hive.

DigiHub3

Masuknya Apple ke Digital Hub BSD membuat kami lega. Selanjutnya, dua universitas ternama dari dalam negeri dan luar negeri segera bergabung,” kata Michael Widjaja.

Triawan Munaf menambahkan, institusinya harus mendekatkan diri dengan komunitas dan ekosistem ekonomi kreatif. ”Tampaknya Bekraf harus pindah ke BSD,” ucapnya setengah bercanda. 

Lis Sutjiati mengatakan bahagia dengan perkembangan ini. Ia yakin, mimpi Michael sebagai anak bangsa untuk mewujudkan Digital Hub sebagai Silicon Valley dengan cita rasa Indonesia dapat terwujud. 

SUMBER: KOMPAS.ID, JUMAT 19 MEI 2017

Iklan

Pusat Kendali dan Aplikasi Digital Permudah Warga


Di ruangan pusat kendali (command center) di salah satu gedung di kawasan BSD, Tangerang, Banten, terpasang delapan layar televisi. Tiga orang yang bertugas Sabtu (15/4) malam mengamati layar- layar yang terhubung dengan 44 kamera pemantau (CCTV) yang dipasang di sejumlah titik di kawasan kota baru tersebut. Sampai tiga tahun ke depan akan dipasang 300 CCTV di seluruh wilayah yang dibangun pengembang properti ini.

 

michael
Michael Widjaja (kiri) memperhatikan layar CCTV “command center” yang dipusatkan di salah satu gedung di kawasan BSD City, Sabtu (15/4/2017). FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

 

“Pusat kendali ini mengatur lalu lintas, keamanan, dan transportasi bus yang beroperasi di wilayah kami,” kata CEO Sinarmas Land (SML) Michael Widjaja dalam percakapan dengan Kompas, Sabtu lalu. Saat ini jumlah penghuni BSD sekitar 32.000 jiwa. Perkembangan wilayah Serpong yang begitu pesat membuat pengembang swasta ini berpikir perlu membantu pemerintah dan aparat keamanan.

Awalnya saat pelaksanaan Gaikindo Indonesia International Auto Show 2015 digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), wilayah BSD mengalami kemacetan yang luar biasa.

“Sejak itu kami berpikir lalu lintas di wilayah ini perlu diatur dengan bantuan teknologi digital,” kata Michael.

Pada 2016, muncul inisiatif untuk mengembangkan digital hub di BSD. Kebutuhan akan pusat kendali dan inisiatif digital datang pada waktu hampir bersamaan. Command center punterealisasi dalam waktu singkat.

Namun, pengaturan lalu lintas dan keamanan yang terhubung dengan kantor polisi setempat ini belum mencapai seluruh wilayah BSD, baru di wilayah barat BSD.

“Seharusnya wilayah timur BSD, dari Kencana Loka, Sevilla, De Latinos, Griya Loka, Nusa Loka, Anggrek Loka, sampai Giri Loka, dan Puspita Loka juga dijangkau. Toh, mereka juga penghuni BSD,” kata seorang warga BSD. Michael berjanji pada tahap berikutnya wilayah timur juga dijangkau CCTV agar lalu lintas dan keamanan dapat selalu dipantau.

Command center ini merupakan bagian dari rencana digital hub, kawasan komunitas digital seluas 26 hektar di BSD,” kata cucu taipan Eka Tjipta Widjaja ini. Kawasan komunitas digital ini diproyeksikan menjadi semacam “Silicon Valley” Indonesia.

Digital hub yang dibangun dengan dana Rp 5 triliun itu dilengkapi dengan ruang rapat interaktif, gaming room, VR room, dan lainnya, yang menunjang operasional perusahaan teknologi dan digital, mulai dari usaha rintisan (start up) sampai industri kreatif.

Perusahaan asal Amerika Serikat, Apple Inc, mulai membangun pusat riset di BSD, September mendatang, dan ini akan menjadi pusat riset ketiga di dunia yang dibangun di luar AS.

Kerja sama dengan Qlue

Terkait inisiatif digital, SML bekerja sama dengan Qlue, yang berpengalaman membangun sistem layanan publik digital di seluruh wilayah DKI Jakarta. Lewat aplikasi Qlue, warga Jakarta dapat melaporkan berbagai peristiwa di Ibu Kota, mulai dari kemacetan lalu lintas, banjir, kebakaran, pohon tumbang, sampai aksi kriminal, dan lainnya.

Laporan dan komplain warga langsung direspons pemerintah untuk ditindaklanjuti. Qlue merupakan bagian dari program Jakarta Smart City yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 15 Desember 2015.

SML lalu menggandeng Qlue dan meluncurkan aplikasi One Smile bagi pengguna ponsel dengan sistem operasi Android dan iOS. Melalui aplikasi ini, semua penghuni BSD dan pekerja yang berkantor di kawasan ini mendapatkan informasi tentang transportasi, mulai dari jadwal feeder bus BSD-Jakarta (dengan rute ke Ratu Plaza, Mangga Dua, dan Pasar Baru); BSD City Shuttle (dengan rute ke halte bus Trans-BSD, Icon Centro, kluster De Park, The Breeze, Aeon, ICE); rute bus transjakarta BSD City yang mangkal di samping Giant/Lembur Kuring ke Grogol lewat tol Tangerang- Tomang; sampai jadwal KRL Commuter Line.

Lewat aplikasi One Smile, warga juga dapat membayar iuran pengelolaan lingkungan, tagihan air dan listrik, pembelian voucer kartu prabayar dan pascabayar, pembayaran BPJS Ketenagakerjaan/Kesehatan, serta multifinance. Warga juga dapat memesan makanan lewat Grab- Food dan Go-Food. Pengguna aplikasi ini juga dapat memesan tiket secara daring (online), mulai tiket masuk wahana Ocean Park dan BSD Xtreme Park, sampai tiket acara-acara yang digelar di ICE.

Yang terpenting, warga dapat melaporkan dan menyampaikan komplain ke pengembang SML lewat aplikasi One Smile lewat chat (percakapan online), surat elektronik (e-mail), dan telepon. Pada hari kerja, respons hanya 1-2 menit. Pada akhir pekan, respons ditindaklanjuti pada awal pekan.

Sebenarnya yang paling tepat tampil di depan membangun infrastruktur digital ini adalah pemerintah daerah karena ini menyangkut layanan publik. Inisiatif pengembang swasta SML membangun command center, aplikasi One Smile, dan kawasan komunitas digital (digital hub) perlu diapresiasi.

SML tidak hanya membangun rumah, rumah toko, dan fasilitas pelengkap seperti yang dilakukan pengembang properti umumnya, tetapi juga membuat kawasan ini memiliki “roh dan jiwa”, bukan sekadar deretan bangunan. (ROBERT ADHI KSP)

SUMBER: HARIAN KOMPAS, SENIN 17 APRIL 2017 HALAMAN METROPOLITAN

Serpong, dari Hutan Menjadi Kota Baru


ROBERT ADHI KSP
Sebelum tahun 1989, Serpong hanya semak belukar dan hamparan hutan karet yang tidak produktif lagi. Nama Serpong disebut jika ada peringatan Pertempuran Lengkong setiap Januari dan pada saat Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) diresmikan tahun 1984.

Tahun 1986, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Barat (saat itu) Dr Ateng Syafrudin menyatakan, Serpong akan dikembangkan menjadi kawasan permukiman dan kota baru untuk menyangga beban Jakarta yang makin padat. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membentuk konsorsium real estat yang diketuai Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat

Sebelas real estat yang bergabung dalam Bumi Serpong Damai membuat perencanaan bersama mengembangkan 6.000 hektar tanah menjadi permukiman baru, juga mengatasi masalah tak tersambungnya perencanaan antarpengembang dalam pembangunan jalan dan drainase.

Serpong sebelum 1989 merupakan hamparan hutan karet yang sangat luas. Kebun karet seluas 1.131 hektar yang tak produktif lagi milik PTP XI di wilayah ini lalu “dikorbankan” demi pembangunan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai (BSD). Selain itu, semak belukar yang tak produktif di Kecamatan Serpong dan Legok, Kabupaten Tangerang, juga akan digunakan untuk kepentingan kota baru Serpong.

Pembangunan Bumi Serpong Damai dilakukan konsorsium PT BSD terdiri atas 11 perusahaan swasta dengan investasi Rp 3,2 triliun. PT BSD didirikan pada 16 Januari 1984 oleh konsorsium yang terdiri atas beberapa perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha Sinar Mas, Salim, Metropolitan, dan Pembangunan Jaya.

Pada 16 Januari 1989, Menteri Dalam Negeri Rudini meresmikan dimulainya pembangunan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Saat itu Direksi PT BSD Eric Samola SH mengungkapkan, Kota Mandiri Bumi Serpong Damai dibangun di atas areal 6.000 hektar dengan fasilitas lengkap dan memenuhi kebutuhan warganya. Pada tahap pertama (1989-1996), dibangun 29.565 rumah terdiri dari 15.000 rumah kecil, 11.000 rumah menengah, dan sisanya rumah besar.

Perumahan pertama yang diresmikan awalnya rumah-rumah yang dibangun di Sektor 1 atau Griya Loka di Kelurahan Rawabuntu, Serpong. Rumah-rumah itu rumah tipe BTN dengan tipe paling kecil 21/60 seharga Rp 4,9 juta. Tipe di atasnya 27/90, tipe 36/120, dan tipe 45/145.

Saat itu banyak konsumen membatalkan pembelian karena tak percaya promosi BSD sebagai Kota Mandiri setelah melihat lokasi rumah yang dianggap “jauh ke mana-mana”.
Warga yang akan ke bank pada awal BSD dibangun harus ke Kota Tangerang yang jaraknya 18 kilometer dari BSD.

Pada tahun itu, hanya ada satu jalan tol, yaitu Tol Kebon Jeruk- Merak yang menghubungkan BSD melalui Jalan Raya Serpong ke kawasan barat Jakarta. Juga ada satu jalur kereta dan stasiun- stasiun kecil. Akses utama lainnya menghubungkan BSD dengan kawasan selatan Jakarta melalui Lebak Bulus, Pondok Cabe, Pamulang, Serpong. Jalan Raya Serpong masih dua jalur dan sangat sepi.

“Waktu tempuh dari BSD ke pintu tol di Kebon Nanas yang berjarak 8 kilometer hanya 5-10 menit. Di atas pukul 17.00, hanya satu-dua kendaraan melintasi Jalan Raya Serpong,” ujar Dhony Rahajoe, warga Serpong, yang juga Managing Director President Office Sinar Mas Land.

Setelah krisis moneter 1998, Sinar Mas membeli saham-saham lainnya dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan menjadi pemilik mayoritas. Setelah itu, PT BSD menjadi perusahaan Tbk dan hingga saat ini sebagian sahamnya dimiliki masyarakat.

Saat ini, ada dua akses jalan tol, selain Tol Jakarta-Merak, juga Tol BSD-Ulujami-Lingkar Luar (JORR) yang menghubungkan BSD dengan sejumlah kawasan di Jakarta. Jalur kereta saat ini sudah jalur ganda dengan kondisi stasiun (Rawabuntu dan Serpong) yang sudah lebih baik. Jalan-jalan penghubung antara BSD dan Jakarta hidup 24 jam. Lalu lintas KRL Commuterline meningkat pesat. Saat ini akses di BSD sudah saling terkoneksi dilengkapi pedestrian dan halte- halte transportasi publik. Sinar Mas Land membangun stasiun intermoda di Cisauk.

Pada 1988-1990, jika warga mencari makanan, biasanya ke restoran padang atau warteg di pinggir Jalan Raya Serpong juga di pelosok kampung.

Saat ini, Serpong jadi “surga” makanan, mulai dari makanan kaki lima sampai “bintang lima”.
Kawasan BSD Green Office Park tahun 2017. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA

Lanjutkan membaca Serpong, dari Hutan Menjadi Kota Baru

ICE dan Gairah MICE di Indonesia


ROBERT ADHI KSP

Indonesia Convention Exhibition, gedung konvensi dan ekshibisi yang dibangun di lahan seluas 22 hektar di kawasan BSD City, Tangerang, Banten, akan menggairahkan industri MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition) di Indonesia.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang kini memiliki luas 117.257 meter persegi dan kelak akan memiliki luas sampai 200.000 meter persegi merupakan gedung konvensi dan ekshibisi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Jika ICE diperluas hingga 200.000 meter persegi, gedung konvensi dan ekshibisi itu akan berada di posisi dua besar di Asia, di bawah China Import and Export Fair Complex di Guangzhou, Tiongkok (338.167 meter persegi).

Indonesia Convention Exhibition (ICE) merupakan gedung MICE terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di lahan seluas 22 hektar di BSD City, Tangerang, Banten, ICE menjadi ikon MICE dan kebanggaan Indonesia. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Indonesia Convention Exhibition (ICE) merupakan gedung MICE terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di lahan seluas 22 hektar di BSD City, Tangerang, Banten, ICE menjadi ikon MICE dan kebanggaan Indonesia.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Saat ini ICE memiliki luas 117.257 meter persegi dan menjadi gedung konvensi dan ekshibisi terbesar dan terluas di Asia Tenggara, serta salah satu yang terbesar di Asia. ICE di atas Singapore Expo (SGExpo) seluas 92.000 meter persegi, Suntec Singapore International Convention & Exhibition Centre (82.000 meter persegi), Jakarta International Expo (JIExpo) yang memiliki luas 74.171 meter persegi, Hongkong Convention and Exhibition Center (HKCEC) seluas 72.991 meter persegi, dan Jakarta Convention Center (JCC) seluas 35.000 meter persegi.

Jika luasnya sudah 200.000 meter persegi, posisi ICE akan berada di atas Shanghai New International Expo Centre di Shanghai, Tiongkok (199.741 meter persegi), IMPACT Exhibition and Convention Center di Nonthaburi, Thailand (140.283 meter persegi), Guangdong Modern International Exhibition Center di Dongguan, Tiongkok (116.128 meter persegi), KINTEX di Goyang-si, Korea Selatan (108.696 meter persegi), China International Exhibition Center di Beijing, Tiongkok (106.838 meter persegi), Shenzhen Convention & Exhibition Center di Shenzhen, Tiongkok (104.980 meter persegi), Singapore Expo Convention Center (100.335 meter persegi), Tokyo Big Sight di Tokyo, Jepang (80.825 meter persegi), dan Cotai Expo di Makau (75.251 meter persegi).

Namun, berapa pun posisi ICE di Asia, yang pasti kehadiran ICE di BSD City bakal menggairahkan industri MICE di Indonesia dan Asia. ICE dioperasikan oleh Deutsche Messe, perusahaan operator global asal Jerman yang diakui dunia. Deutsche Messe adalah organizer pameran dagang terkemuka, di antaranya Hannover Messe, CeBIT, CeMAT, Domotex, dan LIGNA. Deutsche Messe juga operator Shanghai New International Expo Centre (SNIEC), venue paling sukses di Asia.

Saat ini ICE memiliki sepuluh ruangan dengan luas total 50.000 meter persegi; ruang konvensi seluas 4.000 meter persegi, berkapasitas 10.000 orang; 33 ruang rapat berbagai ukuran; area outdoor seluas 50.000 meter persegi; dan area selasar seluas 12.000 meter persegi.

Indonesia Convention Exhibition (ICE) memiliki ruang konvensi (grand ballroom) seluas 4.000 meter persegi. FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP
Indonesia Convention Exhibition (ICE) memiliki ruang konvensi (grand ballroom) seluas 4.000 meter persegi.
FOTO: KOMPAS/ROBERT ADHI KSP

Lanjutkan membaca ICE dan Gairah MICE di Indonesia

Jangan Lupa Bangun Infrastruktur Baru


Gambar

ROBERT ADHI KSP
Pesatnya pembangunan di wilayah Serpong kurang diimbangi dengan pembangunan infrastruktur baru. Pemerintah Provinsi Banten seakan mengabaikan pembangunan jalan baru dan hanya mengandalkan pengembang.Jalan Raya Serpong yang memanjang dari Cikokol di Kota Tangerang hingga ke Taman Tekno di Kota Tangerang Selatan saat ini makin sesak. Kendaraan pribadi bercampur aduk dengan truk-truk besar.

Lanjutkan membaca Jangan Lupa Bangun Infrastruktur Baru

Serpong, Magnet Baru yang Memikat


Gambar

ROBERT ADHI KSP

Kalau ada peta wilayah yang setiap enam bulan sekali harus diperbarui, salah satu peta itu adalah Serpong. Dalam lima tahun terakhir ini, Serpong yang berlokasi di Tangerang Selatan berkembang sangat pesat.

Lanjutkan membaca Serpong, Magnet Baru yang Memikat