Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian di Usia Senja


Ginandjar

ROBERT ADHI KSP

Ginandjar Kartasasmita pada usia senjanya masih sibuk memikirkan negara dan bangsa. Berkantor di gedung Dewan Pertimbangan Presiden di Jalan Veteran Jakarta Pusat, Ginandjar dipercaya menjadi salah satu anggota Wantimpres sejak 2010.

Ginandjar sebelumnya menjabat Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri periode 1983-1988, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode 1985-1988, serta Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) periode 1988-1993 dan Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) periode 1993-1998 pada pemerintahan Presiden Soeharto. Ginandjar menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (1998-1999) pada pemerintahan Presiden BJ Habibie dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (2004-2009) pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketika menjabat Menko Ekuin pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, Ginandjar mengaku menghadapi pekerjaan yang teramat berat, terutama karena pada masa itu Indonesia mengalami krisis moneter yang menyebabkan nilai rupiah sempat jatuh hingga ke Rp 15.000.

Ginandjar mendapat gelar doktor honoris causa dari tiga universitas, yakni dalam bidang ekonomi dari Takushoku University, Tokyo, Jepang (10 Mei 1994), dalam bidang jasa publik dari Northeastern University, Boston, Amerika Serikat (18 Juni 1994), dan dalam bidang ilmu administrasi pembangunan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (15 April 1995). Pada tahun yang sama, ia mendapat gelar guru besar Ilmu Administrasi dan menyandang gelar profesor dari Universitas Brawijaya Malang.

Alumnus SMA Kanisius Jakarta (1959) dan Institut Teknologi Bandung itu menulis buku dalam bahasa Inggris berjudul Managing Indonesia’s Transformastion, An Oral History yang terbit pada 2010. Buku itu memuat perjalanan ekonomi dan politik Indonesia pada masa Orde Baru.

Ditemui di kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), pertengahan Februari lalu, lelaki kelahiran Bandung, 9 April 1941, yang dianugerahi tiga anak dan tujuh cucu ini kelihatan masih segar dan bersemangat.

Berikut petikan wawancara Kompas dengan Ginandjar Kartasasmita.

Anda masih tampak segar dan bugar. Apa rahasianya?

Rahasia untuk tetap segar dan bugar adalah tidak stres. Jangan bawa pulang masalah ke rumah. Ini seperti men-switch, dan tidak mudah. Namun saya harus melakukannya.

Persoalan pasti tidak habis-habisnya. Namun, saya tidak boleh terbawa hanyut ke dalam masalah. Yang penting saya menjaga attitude, sikap diri sendiri. Bagaimana menyikapi persoalan itu sendiri. Bagaimana menyikapi kehidupan. Bukan berarti memandang enteng kehidupan dan tidak bekerja keras. Kita tetap harus serius dan hidup berjalan terus. Kita tidak boleh terganggu hanya karena satu persoalan. Artinya, kita harus berpikir positif dalam segala hal.

Selain itu, saya rutin berolah- raga. Di rumah, saya masih bersepeda statis setiap hari. Saya juga masih rutin bermain golf pada akhir pekan, seminggu sekali.

 

Anda sekarang aktif sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Apa tugas Anda sekarang?

Dalam Dewan Pertimbangan Presiden ada sembilan anggota. Tujuh di antaranya mantan menteri, termasuk saya.

Kami di sini orangtua yang berusia di atas 70 tahun. Tugas kami memberikan nasihat kepada Presiden. Keluhan masyarakat di beberapa daerah kami tampung, lalu kami sampaikan kepada Presiden. Bidang saya di Wantimpres adalah pembangunan dan otonomi daerah.

 

Pak Ginandjar pernah menjabat Ketua BKPM dan Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri. Apa yang dilakukan pada saat itu?

Jabatan paling berkesan ketika saya menjabat Ketua BKPM dan Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri tahun 1980-an. Ketika itu saya membangun kemampuan usaha dalam negeri dan menumbuhkan usaha nasional. Mesin, peralatan yang dibangun pada waktu itu diberi perlindungan oleh pemerintah.

Saya membantu pengusaha Indonesia dan melindungi produk-produk dalam negeri. Dengan kebijakan tersebut, lahirlah pengusaha-pengusaha muda yang kini menjadi orang-orang kaya Indonesia. Misalnya Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Fadel Mohammad, dan Fahmi Idris. Mereka termasuk pengusaha-pengusaha yang saya bina. Saya merasa kontribusi saya besar mencetak pengusaha muda yang sukses.
Ketika menjabat Menteri Pertambangan dan Energi, apa yang dilakukan?

Pada waktu itu (1988-1993), saya membuat kebijakan diversifikasi energi. Pada saat itu Indonesia sangat tergantung pada minyak. Saya yang memulai kebijakan mengembangkan energi panas bumi (geotermal), batubara, dan gas. Masyarakat mulai menggunakan produksi energi dalam negeri. Ini salah satu kontribusi saya kepada bangsa.

Saya juga yang memulai kebijakan pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan mengaitkan harga BBM dengan harga pasar. Namun setelah saya berhenti menjadi menteri, kebijakan ini tidak dilanjutkan lagi.

 

Ketika Pak Ginandjar menjabat Ketua Bappenas, apa yang dilakukan?

Saya merasa berkembang secara akademik ketika menjabat Ketua Bappenas. Intelektualitas saya berkembang. Lingkungan Bappenas sangat kondusif untuk saya. Ketika di Bappenas, saya menulis buku dan mengajar, mendapat gelar guru besar.

Pada tahun 1988 Bappenas sebelumnya seperti menara gading, tidak dekat dengan masyarakat. Bappenas waktu itu jauh dari rakyat dan tidak terkait dengan kesulitan masyarakat. Kemudian saya undang tokoh- tokoh LSM (lembaga swadaya masyarakat) antara lain Adi Sasono dan Umar Juoro. Ada sekitar 30 LSM yang bersama- sama mengevaluasi gerak pembangunan di Indonesia. Mereka mengkritik Bappenas.

Satu lagi yang saya sumbangkan kepada bangsa adalah kebijakan percepatan pengurangan angka kemiskinan. Saya ingin angka kemiskinan di Indonesia lebih cepat berkurang. Saya bikin kebijakan Inpres Daerah Tertinggal (IDT). Saya yang pertama membuat kebijakan memberdayakan masyarakat miskin.

Sebelumnya saya melihat orang miskin dianggap sebagai statistik belaka. Jalan desa dibangun. Namun masyarakat miskinnya sendiri tidak tersentuh. Melalui kebijakan IDT, pemerintah memberi grant kepada masyarakat desa. Satu kelompok, yang terdiri dari 10 orang, mendapat bantuan Rp 2 juta.

Waktu itu sekitar 60.000 desa mendapat bantuan selama tiga tahun. Pemerintah membantu tenaga sukarelawan untuk membantu kelompok-kelompok di desa mengembangkan usaha. Misalnya, bagaimana membangun kolam ikan, beternak bebek, dan sebagainya.

Pemerintah tidak ikut campur dalam usaha bisnis masyarakat, tetapi memberikan bantuan dalam bentuk saran. Bagaimana dengan modal kecil, masyarakat bisa memperoleh uang dengan diberdayakan. Dengan cara itu, angka kemiskinan cepat turun.

Sayangnya program IDT tidak dilanjutkan lagi karena pada 1998 Indonesia mengalami krisis keuangan. Memang ada program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), tetapi fokusnya di kecamatan. Bantuan hanya dinikmati elite-elite kecamatan, tidak sampai ke masyarakat desa. Sementara itu program IDT dulu menyasar langsung ke desa-desa.

 

Ada pengalaman berkesan dalam hidup Anda?

Salah satu hobi saya adalah menyelam. Kebetulan beberapa pengusaha juga mempunyai hobi yang sama. Ketika saya menjabat menteri, saya ”menyelamatkan hidup” dua pengusaha.

Pertama, Johnny Widjaja. Ketika itu Johnny menyelam di perairan Komodo dan tidak muncul lagi. Sebagai pejabat negara, saya mendapat pengawalan khusus. Polisi Perairan selalu di dekat saya. Berita kehilangan kawan itu saya sampaikan kepada polisi. Lalu polisi menghubungi pengelola WWF di Komodo, anak muda asal Belanda, yang sudah mempelajari pola arus di sana. Berkat petunjuk pengelola WWF itulah, Johnny ditemukan terapung-apung di laut. Akan tetapi itu atas permintaan saya.

Kedua, Edwin Soeryadjaya, anak William Soeryadjaya. Edwin waktu itu menyelam di dekat pulaunya di Kepulauan Seribu. Edwin terjatuh ke laut saat duduk di tepi kapalnya. Tangannya kena baling-baling kapal dan hampir putus. Kalau Edwin dibawa dengan kapal ke Tanjung Priok butuh waktu lama, dan itu membahayakan jiwa Edwin.

Yang saya lakukan pada waktu itu, saya menelepon Pertamina. Sebagai Mentamben, saya punya akses ke dirut Pertamina. Saya minta Pertamina mengirimkan pesawat Pelita Air. Dengan pesawat itulah, Edwin dibawa ke RS Pusat Pertamina dan mendarat di helipad rumah sakit itu. Di sana sudah disiapkan ruang operasi untuk menangani tangan Edwin.

Dua pengalaman ini berkesan dalam hidup saya. Mati hidupnya seseorang memang tergantung Yang di Atas. Namun setidaknya saya ikut campur tangan dalam hidup kedua kawan saya itu.

SUMBER: DI MANA DIA SEKARANG, KOMPAS SIANG DIGITAL EPAPER, SABTU 1 MARET 2014

GK dan KSP
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Ginandjar Kartasasmita, dan saya,
Iklan

One thought on “Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian di Usia Senja”

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda menurut saya Pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk kegiatan yang di tujukan kepada masyarakat agar dapat memperbaiki kehidupan dan pola pikir yang lebih baik dalam bentuk material maupun non materil.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Lembaga Pengabdian Masyarakat yang bisa anda kunjungi di Lembaga Pengabdian Masyarakat

    Suka

Komentar ditutup.